
Di dunia modern masa kini, sangat mudah untuk bagi kita untuk berteman, dalam pertemanan pribadi misalnya. kini kita dimanjakan dengan banyaknya situs-situs pertemanan yang membuat dunia terserang sindrom teman online. kalau kita lihat data sebuah situs facebook saja, tak kurang dari 150 juta orang telah terdaftar dan setiap harinya sekitar 2,5 juta user menggunakannya. Ini dalam konteks pertemanan pribadi. jika dalam hal pertemanan antar-negara maka kemudahan ini akan sirna. dewasa kini, negara-negara pun terbagi 3 dengan adanya negara yang sangat powerfull kekuasaannya didunia, macam Amerika.
kembali ke permasalahan krisis Gaza, maka kita pun bisa dengan mudah melihat siapa yang memihak Israel dan siapa yang memihak kaum Muslimin disana. negara-negara kuat yang sudah ratusan tahun menjadi tempat pembuangan orang Yahudi selama masa diaspora kini menjadi pendukung kuat negeri laknat itu. sementara negara-negara sesama muslim hanya cukup dengan mengecam saja. namun belakangan ini, kita sering melihat demonstrasi dari warga dinegara yang mendukung israel itu. meski mereka bukanlah muslim namun mereka tampaknya juga ikut merasakan derita anak-anak Gaza yang dibom dengan Fosfor putih. dan memang, atas nama kemanusiaanlah mereka ikut mengecam agresi israel yang sangat kelewatan itu.
namun belakangan ada satu perhatian saya pada salah-satu negara di arab. yakni Mesir. Mesir yang berbatasan langsung dengan Israel dan Gaza seolah tidak mau peduli dengan apa yang sedang terjadi tempat yang hanya sejauh 100km jauhnya tersebut. dan nama presiden Mesir Housni Mubarak-lah yang membuat saya curiga. kenapa Mubarak begitu enggannya membuka perbatasannya dengan Rafah untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza. dan pikiran saya pun kembali ke tgl 25 Desember sebelum penyerangan Israel. di hari itu menlu Israel Lipni menemui Mubarak di Mesir untuk membicarakan suatu aksi yang akan dilakukan Israel untuk menghentikan serangan roket Hamas yang menyerang Israel. dan hasil pertemuan itupun menyebutkan kalau Israel harus bertindak tegas untuk menghentikan serangan roket tersebut. tentu saja dalam pertemuan ini tidak terungkap jika Israel akan menyerbu Gaza pada tgl 27. namun Mubarak sepertinya mengetahui hal ini. dan agenda sebenarnya dari Israel adalah meminta kepada Mesir untuk menutup perbatasan supaya warga Gaza tidak bisa keluar dan Israel pun akan lebih mudah untuk melakukan pemusnahan (genocide). dan saya seperti harus yakin kalau Mubarak merestui permintaan ini. terbukti dengan kebijakan Mesir yang secara keras melarang demo anti Israel selain di Mesjid.ingat juga kalau Mesir masih terikat perjanjian damai Camp David dengan Israel. dan sudah bukan rahasia kalau Mubarak masih menyimpan memory saat Anwar sadat dibunuh di tahun 1981. oleh jihad islam mesir yang diduga merupakan dari jaringan Hamas sebagai akibat dari ketidakpuasan dunia arab atas perjanjian Camp David.
kini situasinya pun cukup sama, Mesir pun dihujat akibat sikap mubarak itu. dan saya cukup yakin kalau tidak akan ada perubahan dari kebijakan Mesir kedepannya. ingat! di dunia modern ini terkadang banyak sekali pertimbangan yang harus diambil untuk menolong dan Mesir pun sepertinya enggan melepaskan keuntungan ekonomi-nya dengan bersekutu dengan Israel.
"We cannot tolerate a situation in which Hamas continues to target Israel, Israel's citizens, and this situation is going to be changed," Livni




0 komentar:
Posting Komentar
Semua orang boleh berkirim comment disini, silahkan kalian keluarkan unek-unek kalian asal ingat jangan janjian perang disini hehehe!!!!!!